Sunday, April 4, 2010

Sekolah Tinggi Intelijen Negara Mencetak Prajurit Perang Pikir Pelita

DULU, banyak aparat intelijen yang salah kaprah dengan tugasnya. Mereka justru senang kalau diketahui orang bahwa dirinya adalah intelijen. Sehingga ada sindiran yang mengatakan intelijen kok ngaku-ngaku, saya ini intel lho sambil gagang pistolnya terlihat menyembul di balik kaos yang ketat atau di balik jaket. Banyak orang menjuluki mereka intel Melayu!
Tugas sebagai aparat intelijen umumnya sangat tertutup. Tidak semua orang boleh tahu, karena memang tugasnya memerlukan kerahasiaan yang sangat tinggi. Karena itu, ketika Pelita dan beberapa wartawan diundang menghadiri wisuda pertama Sarjana Intelijen (SIn) lulusan Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat, pekan lalu; tak terkesan tempat itu sebagai Kawah Candradimukanya generasi intelijen-intelijen Indonesia masa depan.
Di pintu gerbang-nya juga tidak ada tanda-tanda mencolok mengenai sekolah tinggi itu. Di sekitar kampus itu juga masih berupa hamparan tanah yang sebagian ditanami pohon-pohon jati. Untuk mencapai STIN, juga tidak ada kendaraan angkutan umum. Para wisudawan dan mahasiswanya yang semuanya masih muda-muda, energik, dan perempuannya cantik-cantik. Tak ada jarak antara senior dan yunior, tidak seperti di perguruan tinggi lainnya. Tapi mereka agak enggan didekati wartawan. Maaf, kami mau ke sana, kata seorang lulusan ketika Pelita menanyakan nama rekannya yang meraih nilai terbaik.
***
KEPALA Badan Intelijen Negara (BIN) H Syamsir Siregar mengatakan mereka yang diwisuda dan nantinya menjadi aparat intelijen harus mampu mendeteksi secara cepat dan tepat, menangkap peringatan dini, dan mengetahui prakiraan yang akan terjadi.
Para mahasiswanya --sebagian mahasiswi-- dilatih untuk melihat apa yang tersurat dan tersirat. Bahkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan, katanya. Karena itu, STIN dibangun untuk menjawab tantangan dan tuntutan zaman. Mereka diajari untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi --tentu bidang keintelejenan khususnya-- dan memiliki pedoman hidup yang bertumpu pada iman dan takwa, serta melandasi diri dengan falsafah Pancasila dan UUD 1945.
Lulusan dan mahasiswa yang belajar di STIN merupakan pemuda-pemudi lulusan terbaik dari sekolah-sekolah unggulan berasrama di seluruh Indonesia, termasuk dari pesantren unggulan. Kenapa berasrama? Karena biasanya pelajar yang berada di asrama lebih disiplin, kata Pembantu Ketua (Puket) II STIN, Supono.
Banyak di antara mereka adalah anak-anak dari orangtua yang tidak mampu. Karena itu ketika mereka dinyatakan lulus dan harus berangkat ke Sentul, ada yang tidak punya ongkos. Ya, akhirnya kami talangi. Setelah mereka belajar di sini, mereka mengangsur ongkos talangan tersebut, kata Supono.
Setelah para lulusan itu banyak mereguk ilmu terutama berkaitan dengan intelijen strategis baik untuk Program Studi Analis maupun Program Studi Agen, ke-61 Sarjana Intelijen itu dipersiapkan untuk mengikuti program S-2 di Universitas Indonesia (UI). Mereka adalah sarjana-sarjana hebat, setelah melalui tes, seluruhnya masuk program S-2 di UI.
***
MENJAWAB pers, Supono menjelaskan bahwa mereka yang belajar din STIN digembleng berbagai ilmu intelijen, ilmu pendukung, dan ilmu-ilmu dasar seperti agama dan fisik. Di sini tidak ada sanksi fisik. Sanksinya adalah masih menyangkut materi mata kuliah, jelasnya.
Pernah, suatu kali ada mahasiswa yang mempraktikkan ilmu yang diperolehnya di kelas. Selama dua hari, ia tidak terlihat di STIN. Akhirnya mahasiswa itu kembali juga. Dia pintar, waktu pergi tidak ketahuan. Tapi dia bodo; karena waktu kembali ya, ketahuanlah. Sanksinya ia diharuskan menulis dan membuat resume dari mata kuliah yang ia tidak ikuti, kata Supono.
Selain serba gratis, para siswa juga mendapat uang saku. Tapi jumlahnya kecil, saya malu menyebutkannya; hanya cukup untuk membeli pulsa, jelas pria bertubuh kecil tapi terlihat keras itu.
Ia menjelaskan bahwa mereka yang belajar di tempat itu satu angkatan hanya sekitar 30 orang. Mereka bisa memanfaatkan fasilitas yang ada. Ada perpustakaan dengan 4.000 judul buku, tempat ibadah, ruang makan, kantin, laboratorium bahasa, dan lapangan tembak. Di kantin tidak boleh menjual rokok, ucap Supono lagi. Mereka bisa belajar Bahasa Perancis, China, dan Arab. Untuk Bahasa Inggris adalah wajib. Bahkan setiap hari Rabu wajib berbahasa Inggris.
Namanya juga para remaja, di tangga menuju ruang makan, terlihat bekas dulitan-dulitan di tembok; sehingga menyerupai suatu lukisan. Entah siapa yang melakukannya.
Kontur tanah yang berbukit-bukit di STIN membuat mereka yang belajar otomatis harus berolahraga. Tapi udara sejuk pegunungan, membuat suasana di STIN terasa nyaman.
Kami di sini ingin mencetak prajurit perang pikir. Kalau mereka selama ini merupakan insan-insan cerdas, di sini diharapkan mereka menjadi cerdas sekali, jelas Supono mengenai dibangunnya sekolah tinggi itu.
Saat diwisuda, para sarjana itu juga harus mengucapkan Sumpah Intelijen. Mereka harus siap melaksanakan tugas-tugas berat intelijen, termasuk risikonya. Sebab di bidang intelijen berlaku sukses tidak dipuji, gagal dicaci-maki, hilang tidak dicari, dan mati tidak diakui.

1 comment:

  1. Terima kasih atas informasi yang bermanfaat dan menyentuh. Semoga kami mendapatkan informasi penerimaan calon mahasiswa baru tahun akademik 2011/2012.
    Hormat kami
    ttd
    M. Rif'at

    ReplyDelete